DONATUR TPQ AT TAQWA

DONATUR TPQ AT TAQWA
Tampilkan postingan dengan label KEGIATAN TAKMIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEGIATAN TAKMIR. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 April 2019

BANTU KAMI MEMBANGUN TEMPAT NGAJI

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

NAMA PROGRAM " AJAR "

THEMA 
" BANTU KAMI MEMBANGUN TEMPAT NGAJI "

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

LATAR BELAKANG :

Taman Pendidikan Al Quran ( TPQ ) merupakan wadah dan sarana yang tepat untuk menampung anak-anak dan generasi muda  untuk mendidik ilmu agama sejak dini dilingkungan masyarakat yang jauh dari pondok pesantren khususnya.

TPQ AT TAQWA Randublatung yang beralamat di :
Jalan Kawedanan No: 02. Kelurahan / Kecamatan Randublatung.
( Sekretariat Masjid Besar AT-TAQWA Randublatung )

Untuk itu TPQ AT TAQWA Randublatung dalam upaya mendidik anak sejak dini dalam Ilmu Agama, kami berencana melakukan pengembangan Sarana Prasaran TPQ berupa kelengkapan kegitan belajar mengajar serta bangunan berupa Gedung yang mana sampai saat ini TPQ AT TAQWA belum memiliki gedung / ruang kelas, maka untuk itu kami berkeinginan untuk mendirikan bangunan TPQ untuk mendidik anak2 dalam ilmu agama, namun kami masih terkendala dalam pendanaan, sehingga kami memiliki gagasan untuk menggali dana dari Para Dermawan dengan PROGRAM  AMAL JARIYAH yang disingkat  " AJAR " .


VISI DAN MISI

VISI    :   Bertekad Kuat Membangun Umat Bersama Masyarakat.
MISI   :   - Membina dan Mendidik anak-anak dengan ilmu Agama Islam sejak dini agar 
             tumbuh menjadi pemuda yang berakhlak Baik dan memiliki adab yang tinggi.
            - Melatih anak - anak gemar membaca Al Qur'an.


MAKSUD DAN TUJUAN 

MAKSUD 

Dalam pengembangan dan pembangunan Taman Pendidikan Al Qur'an ( TPQ ) AT TAQWA Randublatung kami bermaksud menggali dana melalui para Dermawan dengan penuh harapan dapat menjadi DONATUR TETAP ataupun DONATUR TIDAK TETAP pada PROGRAM " AJAR " yang kami laksanakan.

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila cucu Adam meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan atau anak shalih yang mendo’akan (orang tua)nya.”  (HR. Muslim)

TUJUAN :

Melalui PROGRAM "AJAR " agar bisa terlaksana dan terealisasi dengan baik, dalam Pengembangan dan Pembangunan Taman Pendidikan Al Qur'an ( TPQ ) AT TAQWA Randublatung, sesuai dengan harapan masyarakah dan sesuai amanah dari Para Dermawan sebagai DONATUR.

RENCANA KERJA PROGRAM " AJAR "

Menyalurkan dana dari para DONATUR kepada lembaga Taman Pendidikan Al Qur'an ( TPQ ) AT TAQWA Randublatung yang akan dipergunakan sbb :

A. PROGRAM KERJA JANGKA PENDEK :
  1. Pengadaan Sarana Prasaran Kegiatan Belajar Mengajar.
  2. Biaya Operasional Harian yang dibutuhkan.

B. PROGRAM KERJA JANGKA PANJANG :

  1. Pembangunan Ruang Kelas. 
  2. Santunan anak yatim Piyatu.

    CATATAN : 
    Point no 1 dan 2 apabila dana telah mencukupi, dan ditunjang dengan adanya DONATUR TETAP yang memadahi.
SALURKAN SEBAGIAN HARTA ANDA UNTUK AMAL JARIYAH KE :
Rek Bank BRI RANDUBLATUNG
No. Rek : 219501002262530
A/n : TPQ AT TAQWA RANDUBLATUNG

ALAMAT :
Jln. Kawedanan No. 02  Randublatung
Kab. Blora – Jawa Tengah

CONTACT PERSON :
Kepala TPQ
Bpk. NARTO ; HP ( WA ) : 0856-4054-7488
Bendahara I
Bpk. PRIYONO; HP ( WA ) : 0877-1715-2232


PENUTUP :

Demikian rencana kerja pengurus TPQ AT TAQWA Randublatung melalui PROGRAM " AJAR " dengan thema " BANTU KAMI MEMBANGUN TEMPAT NGAJI ". 
Tentunya Program ini tidak bisa berjalan dengan baik dan lancar tanpa adanya partisipasi serta dukungan dari masyarakat dan para DERMAWAN yang secara IKHLAS menjadi DONATUR, dan tentunya dalam upaya kami ini masih banyak kekurangannya, untuk itu kami sangat mengharap kritik dan saran yang sifatnya membangun.

Kami selaku pengurus sebelum dan sesudahnya hanya bisa menyampaikan ucapan " JAZAKUMULLAH KHOIRAN KATSIRO ".

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jumat, 06 April 2018

KAJIAN SUBUH MINGGU KE TIGA_ AT TADZHIB

    Kitab At-Tadzhib merupakan kitab tentang ilmu fiqih. Kitab tersebut menjelaskan secara sederhana, padat, dan jelas isi kadungannya yang merupakan pembaharuan kitab fiqih sebelumnya bermadzhab Imam Syafi'i. Kitab ini mudah dipahami untuk pembelajaran para pelajar pemula.
Kitab At-Tadzhib fii Adillah Matn Al-Ghayah wa At-Taqrib adalah kitab fiqih madzhab Syafi’i yang ditulis oleh ulama kontemporer asal Suriah, Prof. Dr. Mushthafa Dib al-Bugha. Kitab ini merupakan syarah dari kitab Matn Al-Ghayah wa At-Taqrib, atau yang lebih dikenal dengan nama Matn Abi Syuja’, yang ditulis oleh al-Qadhi Abu Syuja’ al-Ashfihani, yang hidup di abad 5 hijriyyah.
Kitab Matn Abi Syuja’, kitab yang sangat populer dalam madzhab Syafi’i, ditulis secara ringkas dan tanpa menyebutkan dalil, hanya berisi kesimpulan-kesimpulan hukum fiqih. Ini karena kitab tersebut memang ditulis untuk mudah dihafal, sedang pembahasan yang rinci beserta dalil-dalilnya bisa dipelajari dari kitab lain. Kitab ini kemudian banyak di-syarah (diperluas pembahasannya dalam kitab lain) oleh para ulama, dengan memuat dalil-dalil dan/atau penjelasan lebih rinci. Salah satu kitab syarah tersebut adalah kitab ِAt-Tadzhib fi Adillah Matn Al-Ghayah wa At-Taqrib.
Kitab At-Tadzhib ini tidak memberikan penjelasan terhadap Matn Abi Syuja’ secara panjang lebar. Ia lebih fokus pada penyebutan dalil-dalil terhadap satu persoalan hukum dari al-Qur’an, as-Sunnah maupun atsar Shahabat, ditambah qiyas pada beberapa tempat. Penjelasan di luar itu hanya diberikan jika benar-benar diperlukan untuk memudahkan pemahaman, tapi bukan untuk memperluas dan memperlebar pembahasan. Kitab ini sangat cocok untuk pelajar fiqih pemula, yang akan kesulitan jika diajak mempelajari bab-bab fiqih terlalu dalam.
Agar lebih jelas mari kita bersama-sama mengikuti kajian KITAB AT TDZHIB  yang disampaikan Oleh Ustadz SISWANTO


Semoga pembaca diberikan kemudahan oleh ALLAH untuk mendatangi majlis-majlis Ilmu dengan penuh Keridhoannya.... AAMIIN.................

KAJIAN KITAB AL IBRIZ

Untuk mengerti arti dan makna Kitab Suci Al Qur'an tentunya tidak cukup dengan membaca dan tahu artinya saja, namun perlu dikaji TAFSIRNYA juga. Oleh karena itu Seksi Kemakmuran Masjid Besar AT-Taqwa mengadakan kegiatan NGAJI RUTIN KITAB AL IBRIS yang dilaksanakan setiap MALAM RABU waktu Ba'da ISYA' sampai selesai. Dan para jamaah yang mengikuti acara tersebut sangat diharapkan duntuyk mikut melaksanakan SHOLAT ISYA' berjamaah di masjid AT TAQWA Randublatung. 
Untuk itu kami mengajak para pembaca BLOG ini untuk mengikuti acara yang telah kami selenggarakan.


Untuk mmengetahui secara singkat Pengarang dan kitabnya silahkan simak artikel berikut :

KH Bisri Musthofa Dan Tafsir Al Ibriz Karangannya

KH. Bisri Musthofa merupakan satu di antara sedikit ulama Islam Indonesia yang memiliki karya besar. Beliaulah sang pengarang kitab tafsir al-Ibriz li Ma’rifah Tafsir al-Qur’an al-‘Aziz. Kitab tafsir ini selesai beliau tulis pada tahun 1960 dengan jumlah halaman setebal 2270 yang terbagi ke dalam tiga jilid besar. Masih banyak karya-karya lain yang dihasilkan KH. Bisri Musthofa, dan tidak hanya mencakup bidang tafsir saja tetapi juga bidang-bidang yang lain seperti tauhid, fiqh, tasawuf, hadits, tata bahasa Arab, sastra Arab, dan lain-lain.
Selain itu, KH. Bisri Musthofa juga dikenal sebagai seorang orator atau ahli pidato. Beliau, menurut KH. Saifuddin Zuhri, mampu mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit sehingga menjadi begitu gamblang, mudah diterima semua kalangan baik orang kota maupun desa. Hal-hal yang berat menjadi begitu ringan, sesuatu yang membosankan menjadi mengasyikkan, sesuatu yang kelihatannya sepele menjadi amat penting, berbagai kritiknya sangat tajam, meluncur begitu saja dengan lancar dan menyegarkan, serta pihak yang terkena kritik tidak marah karena disampaikan secara sopan dan menyenangkan (KH. Saifuddin Zuhri : 1983, 27).
KH. Bisri Musthofa dilahirkan di desa Pesawahan, Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1915 dengan nama asli Masyhadi. Nama Bisri ia pilih sendiri sepulang dari menunaikan ibadha haji di kota suci Mekah. Beliau adalah putra pertama dari empat bersaudara pasangan H. Zaenal Musthofa dengan isteri keduanya yang bernama Hj. Khatijah. Tidak diketahui jelas silsilah kedua orangtua KH. Bisri Musthofa ini, kecuali catatan KH. Bisri Musthofa yang menyatakan bahwa kedua orangtuanya tersebut sama-sama cucu dari Mbah Syuro, seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai tokoh kharismatik di Kecamatan Sarang. Namun, sayang sekali, mengenai Mbah Syuro ini pun tidak ada informasi yang pasti dari mana asal usulnya (KH. Bisri Musthofa: 1977, 1).Di usianya yang keduapuluh, KH. Bisri Musthofa dinikahkan oleh gurunya yang bernama Kiai Cholil dari Kasingan (tetangga desa Pesawahan) dengan seorang gadis bernama Ma’rufah (saat itu usianya 10 tahun), yang tidak lain adalah puteri Kiai Cholil sendiri. Belakangan diketahui, inilah alasan Kiai Cholil tidak memberikan izin kepada KH. Bisri Musthofa untuk melanjutkan studi ke pesantren Termas yang waktu itu diasuh oleh K. Dimyati. Dari perkawinannya inilah, KH. Bisri Musthofa dianugerahi delapan anak, yaitu Cholil, Musthofa, Adieb, Faridah, Najihah, Labib, Nihayah dan Atikah. Cholil (KH. Cholil Bisri) dan Musthofa (KH. Musthofa Bisri) merupakan dua putera KH. Bisri Musthofa yang saat ini paling dikenal masyarakat sebagai penerus kepemimpinan pesantren yang dimilikinya. KH. Bisri Musthofa wafat pada tanggal 16 Februari 1977 (KH. Bisri Musthofa: 1977, 15).
Pendidikan
KH. Bisri Musthofa lahir dalam lingkungan pesantren, karena memang ayahnya seorang kiai. Sejak umur tujuh tahun, beliau belajar di sekolah Jawa “Angka Loro” di Rembang. Di sekolah ini, KH. Bisri Musthofa tidak sampai selesai karena ketika hampir naik kelas dua beliau terpaksa meninggalkan sekolah, tepatnya diajak oleh orangtuanya menunaikan ibadah haji di Mekah. Rupanya, inilah masa di mana beliau harus merasakan kesedihan mendalam karena dalam perjalanan pulang di pelabuhan Jedah, ayahnya yang tercinta wafat setelah sebelumnya menderita sakit di sepanjang pelaksanaan ibadah haji (KH. Saifuddin Zuhri : 1983, 24).
Sepulang dari tanah suci, KH. Bisri Musthofa sekolah di Holland Indische School (HIS) di Rembang. Tak lama kemudian ia dipaksa keluar oleh Kiai Cholil (guru di pondok dan belakangan jadi mertua) dengan alasan sekolah tersebut milik Belanda dan kembali lagi ke sekolah “Angka Loro” sampai mendapatkan serifikat dengan masa pendidikan empat tahun. Pada usia 10 tahun (tepatnya pada tahun 1925), KH. Bisri Musthofa melanjutkan pendidikannya ke pesantren Kajen, Rembang. Pada tahun 1930, KH. Bisri Musthofa belajar di pesantren Kasingan pimpinan Kiai Cholil (KH. Bisri Musthofa: 1977, 8-9).
Setahun setelah dinikahkan oleh Kiai Cholil dengan putrinya yang bernama Marfu’ah itu, KH. Bisri Musthofa berangkat lagi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji bersama-sama dengan beberapa anggota keluarga dari Rembang. Namun, seusai haji, KH. Bisri Musthofa tidak pulang ke tanah air, melainkan memilih bermukim di Mekah dengan tujuan menuntut ilmu di sana.
Di Mekah, pendidikan yang dijalani KH. Bisri Musthofa bersifat non-formal. Beliau belajar dari satu guru ke guru lain secara langsung dan privat. Di antara guru-guru beliau terdapat ulama-ulama asal Indonesia yang telah lama mukim di Mekah. Secara keseluruhan, guru-guru beliau di Mekah adalah: (1) Syeikh Baqir, asal Yogyakarta. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar kitab Lubbil Ushul, ‘Umdatul Abrar, Tafsir al-Kasysyaf; (2) Syeikh Umar Hamdan al-Maghriby. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar kitab hadits Shahih Bukhari dan Muslim; (3) Syeikh Ali Maliki. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar kitab al-Asybah wa al-Nadha’ir dan al-Aqwaal al-Sunnan al-Sittah; (4) Sayid Amin. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar kitab Ibnu ‘Aqil; (5) Syeikh Hassan Massath. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar kitab Minhaj Dzawin Nadhar; (6) Sayid Alwi. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar tafsir al-Qur’an al-Jalalain; (7) KH. Abdullah Muhaimin. Kepada beliau, KH. Bisri Musthofa belajar kitab Jam’ul Jawami’ (KH. Bisri Musthofa: 1977, 18).
Dua tahun lebih KH. Bisri Musthofa menuntut ilmu di Mekah. KH. Bisri Musthofa pulang ke Kasingan tepatnya pada tahun 1938 atas permintaan mertuanya.
Setahun kemudian, mertuanya (Kiai Kholil) meninggal dunia. Sejak itulah KH. Bisri Mustofa menggantikan posisi guru dan mertuanya itu sebagai pemimpin pesantren.
Dalam mengajar para santrinya, beliau melanjutkan sistem yang dipergunakan kiai-kiai sebelumnya yaitu menggunakan sistem balah (bagian) menurut bidangnya masing-masing. Beberapa kitab yang diajarkan langsung kepada para santrinya adalah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Alfiyah Ibn Malik, Fath al-Mu’in, Jam’ul Jawami’, Tafsir al-Qur’an, Jurumiyah, Matan ‘Imrithi, Nadham Maqshud, ‘Uqudil Juman, dan lain-lain.
Di samping kegiatan mengajar di pesantren, beliau juga aktif pula mengisi ceramah-ceramah (pengajian) keagamaan. Penampilannya di atas mimbar amat mempesona para hadirin yang ikut mendengarkan ceramahnya sehingga beliau sering diundang untuk mengisi ceramah dalam berbagai kesempatan di luar daerah Rembang, seperti Kudus, Demak, Lasem, Kendal, Pati, Pekalongan, Blora dan daerah-daerah lain di Jawa tengah.
KH. Bisri Musthofa memiliki banyak murid. Di antara murid-muridnya yang menonjol adalah KH. Saefullah (pengasuh sebuah pesantren di Cilacap Jawa Tengah), KH. Muhammad Anshari (Surabaya), KH. Wildan Abdul Hamid (pengasuh sebuah pesantren di Kendal), KH. Basrul Khafi, KH. Jauhar, Drs. Umar Faruq SH, Drs. Ali Anwar (Dosen IAIN Jakarta), Drs. Fathul Qorib (Dosen IAIN Medan), H. Rayani (Pengasuh Pesantren al-Falah Bogor), dan lain-lain.
Karya-Karya
Jumlah tulisan-tulisan beliau yang ditinggalkan mencapai lebih kurang 54 buah judul, meliputi: tafsir, hadits, aqidah, fiqh, sejarah nabi, balaghah, nahwu, sharf, kisah-kisah, syi’iran, do’a, tuntunan modin, naskah sandiwara, khutbah-khutbah, dan lain-lain. Karya-karya tersebut dicetak oleh beberapa perusahaan percetakan yang biasa mencetak buku-buku pelajaran santri atau kitab kuning, di antaranya percetakan Salim Nabhan Surabaya, Progressif Surabaya, Toha Putera Semarang, Raja Murah Pekalongan, Al-Ma’arif Bandung dan yang terbanyak dicetak oleh Percetakan Menara Kudus. Karyanya yang paling monumental adalah Tafsir al-Ibriz (3 jilid), di samping kitab Sulamul Afham (4 jilid).
Karya-karya KH. Bisri Musthofa jika diklasifikasikan berdasarkan bidang keilmuan adalah sebagai berikut:
A.    Bidang Tafsir
Selain tafsir al-Ibriz, KH. Bisri Musthofa juga menyusun kitab Tafisr Surat Yasin. Tafsir ini bersifat sangat singkat dapat digunakan para santri serta para da’I di pedasaan. Termasuk karya beliau dalam bidang tafsir ini adalah kitab al-Iksier yang berarti “Pengantar Ilmu Tafsir” ditulis sengaja untuk para santri yang sedang mempelajari ilmu tafsir.B.  Hadits
1.  Sulamul Afham, terdiri atas 4 jidil, berupa terjamah dan penjelasan. Di dalamnya memuat hadits-hadits hukum syara’ secara lengkap dengan keterangan yang sederhana.
2.  al-Azwad al-Musthofawiyah, berisi tafsiran Hadits Arba’in an-Nawaiy untuk para santri pada tingkatan Tsanawiyah.
3.  al-Mandhomatul Baiquny, berisi ilmu Musthalah al-Hadits yang berbentuk nadham yang diberi nama.
C.  Aqidah
1.  Rawihatul Aqwam2.  Durarul Bayan
Keduanya merupakan karya terjemahan kitab tauhid/aqidah yang dipelajari oleh para santri pada tingkat pemula (dasar) dan berisi aliran Ahlussunnah wal Jama’ah. Karyanya di bidang aqidah ini terutama ditujukan untuk pendidikan tauhid bagi orang yang sedang belajar pad atingkat pemula.
D.  Syari’ah
1.  Sullamul Afham li Ma’rifati al-Adillatil Ahkam fi Bulughil Maram. 
2.  Qawa’id Bahiyah, Tuntunan Shalat dan Manasik Haji.
3.  Islam dan Shalat.
E.  Akhlak/Tasawuf
1.  Washaya al-Abaa’ lil Abna
2.  Syi’ir Ngudi Susilo
3.  Mitra Sejati
4. Qashidah al-Ta’liqatul Mufidah (syarah dari Qashidah al-Munfarijah karya Syeikh Yusuf al-Tauziri dari Tunisia)
F. Ilmu Bahasa Arab
1. Jurumiyah
2. Nadham ‘Imrithi
3. Alfiyah ibn Malik
4. Nadham al-Maqshud. 
5. Syarah Jauhar Maknun
G. Ilmu Mantiq/Logika
Tarjamah Sullamul Munawwaraq, memuat dasar-dasar berpikir yang sekarang lebih dikenal dengan ilmu Mantiq atau logika. Isinya sangat sederhana tetapi sangat jelas dan praktis. Mudah dipahami, banyak contoh-contoh yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
H. Sejarah
1. An-Nibrasy 
2. Tarikhul Anbiya
3. Tarikhul Awliya.
I.    Bidang-bidang Lain
Buku tuntunan bagi para modin berjudul Imamuddien, bukunya Tiryaqul Aghyar merupakan terjemahan dariQashidah Burdatul Mukhtar. Kitab kumpulan do’a yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari berjudul al-Haqibah (dua jilid). Buku kumpulan khutbah al-Idhamatul Jumu’iyyah (enam jilid), Islam dan Keluarga Berencana, buku cerita humor Kasykul (tiga jilid), Syi’ir-syi’irNaskah Sandiwara, Metode Berpidato, dan lain-lain.
Pemikiran
Tidak dapat dipungkiri, di dalam lingkungan kaum muslimin ada dua kecenderungan, yaitu kelompok tekstual-skripturalistik dan kelompok rasional. Kelompok tekstualis selalu menjadikan ayat al-Qur’an dan Hadits apa adanya sebagai dasar argumen, berpikir, dan bersikap. Sementara kelompok rasionalis selalu memberikan interpretasi rasional terhadap teks-teks keagamaan berdasarkan kemampuan akalnya.
KH. Bisri Musthofa tidak termasuk di antara kedua kelompok di atas. KH. Bisri Musthofa lebih cenderung berada di tengah-tengah antara tekstual-skripturalis dan rasionalis. Sebagaimana terlihat jelas dalam kitab tafsirnya, al-Ibruz, KH. Bisri Musthofa selalu memberikan tafsiran terhadap ayat-ayat mutasyabihat dengan mengambil beberapa pendapat para mufassir disertai dengan argumen-argumen yang beliau berikan sendiri. Dalam kitab tafsirnya itu tidak sedikit ditemukan uraian-uraian yang menyangkut ilmu sosial, logika, ilmu pengetahuan alam dan sebagainya.
Di bidang akhlak, KH. Bisri Musthofa termasuk orang yang sangat memprihatinkan kondisi kemorosotan moral generasi muda. Lewat karya-karyanya di bidang akhlak itulah KH. Bisri Musthofa menyampaikan nasihat-nasihatnya kepada generasi muda. Dalam kitab berbahasa Jawa Washoya Abaa li al-Abna, misalnya, beliau memberikan tuntunan-tuntunan seperti sikap taat dan patuh kepada orangtua, kerapihan, kebersihan, kesehatan, hidup hemat, larangan menyiksa binatang, bercita-cita luhur dan nasihat-nasihat baik lainnya. Sementara dalam karya yang berbentuk syair Jawa, yaitu kitab Ngudi Susila dan Mitra Sejati, KH. Bisri Musthofa menekankan sikap humanisme, kemandirian, rajin menuntut ilmu dan lain-lain.
Sedangkan pemikiran KH. Bisri Musthofa dalam bidang fiqh terlihat dalam pemikirannya mengenai Keluarga Berencana (KB). Menurutnya, manusia dalam berkeluarga diperbolehkan berikhtiar merencanakan masa depan keluarganya sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Dalam pandangan KH. Bisri Musthofa, Keluarga Berencana diperbolehkan bila disertai dengan alasan yang pokok, yaitu untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, dan meningkatkan pendidikan sang anak.
Karir Politik dan Perjuangan
KH. Bisri Musthofa hidup dalam tiga zaman, yaitu zaman penjajahan, zaman pemerintahan Soekarno, dan masa Orde Baru. Pada zaman penjajahan, ia duduk sebagai ketua Nahdlatul Ulama dan ketua Hizbullah Cabang Rembang. Kemudian, setelah Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) dibubarkan Jepang, ia diangkat menjadi ketua Masyumi Cabang Rembang –ketua Masyumi pusat waktu itu adalah KH. Hasyim Asy’ari dan wakilnya Ki Bagus Hadikusumo (Saifullah Ma’shum : 1994, 332). Masa-masa menjelang kemerdekaan, KH. Bisri Musthofa mendapat tugas dari PETA (Pembela Tanah Air). Beliau juga pernah menjabat sebagai kepala Kantor Urusan Agama dan ketua Pengadilan Agama Rembang. Menjelang kampanye Pemilu 1955, jabatan tersebut ditinggalkan, dan mulai aktif di partai NU. Dalam hal ini beliau menyatakan : “tenaga saya hanya untuk partai NU… dan di samping itu menulis buku“.
Pada zaman pemerintahan Soekarno, KH. Bisri Musthofa duduk sebagai anggota konstituane, anggota MPRS dan Pembantu Menteri Penghubung Ulama. Sebagai anggota MPRS, ia ikut terlibat dalam pengangkatan Letjen Soeharto sebagai Presiden, menggantikan Soekarno dan memimpin do’a waktu pelantikan (Saifullah Ma’shum : 1994, 332).
Pada masa Orde Baru, KH. Bisri Musthofa pernah menjadi anggota DPRD I Jawa Tengah hasil Pemilu 1971 dari Fraksi NU dan anggota MPR dari Utusan Daerah Golongan Ulama. Pada tahun 1977, ketika partai Islam berfusi menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), beliau menjadi anggota Majelis Syura PPP Pusat. Secara bersamaan, beliau juga duduk sebagai Syuriyah NU wilayah Jawa Tengah (Saifullah Ma’shum : 1994, 333).
Menjelang Pemilu 1977, KH. Bisri Musthofa terdaftar sebagai calon nomor satu anggota DPR Pusat dari PPP untuk daerah pemilihan Jawa Tengah. Namun sayang sekali, Pemilu 1977 berlangsung tanpa kehadiran KH. Bisri Musthofa. Beliau meninggal dunia seminggu sebelum masa kampanye 24 Februari 1977. Duduknya KH. Bisri Musthofa sebagai calon utama anggota DPR tersebut memang memberikan bobot tersendiri bagi perolehan suara PPP. Itulah sebabnya, wafatnya beliau dirasakan sebagai suatu musibah yang berat bagi warga PPP.



SEMANGAT KEBERSAMAAN








Untuyk tetap menjaga KEBERSIHAN MASJID dan LINGKUNGANNYA setiap 2 Minggu sekali Pengurus Takmir dengan semangat kebersamaan melakukan Kerja Bakti secara rutin.

MAJLIS DZIKIR SELAPANAN YASIIN - TAHLIL Masjid AT-TAQWA

Guna memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat Randublatung serta upaya untuk meningkatkan keimanan Jama'ah Masjid Besar AT-TAQWA Randublatung maka Takmkir Masjid Besar AT- TAQWA mengajak masyarakat Randublatung untuk lebih Gemar BERDZIKIR dan Senang dengan Majlis Dzikir, 
Upaya untuk memakmurkan Masjid serta Masyarakat / jama'ah gemar berdzikir maka diselenggaran MAJLIS DZIKIR RUTIN SELAPANAN dengan kegiatan  Pembacaan YASIIN - TAHLIL - ISTIGOTSAH - MAULIDURROSUL  secara rutin dan Alhamdulillah telah berjalan dengan lancar

PUSTAKA UNGGULAN

20 Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan, Bisa Bangkitkan Libido!

Tanaman kelor biasanya digunakan untuk mengusir makhluk tak kasat mata, namun ternyata ada banyak manfaat daun kelor bagi kesehatan.  Hal i...

PUSTAKA POPULER