DONATUR TPQ AT TAQWA

DONATUR TPQ AT TAQWA
Tampilkan postingan dengan label AKHLAQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AKHLAQ. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2020

PUJIAN SETELAH ADZAN#2


Ajaran Tasawuf dalam Puji-pujian Menjelang Shalat Fardlu

Puji-pujian didendangkan di mushalla, langgar atau masjid merupakan nyanyian puitis yang bernuansa keagamaan. Puji-pujian tersebut biasanya didendangkan  bersama-sama  oleh  para  jemaah menjelang shalat Subuh, Dzhur, Ashar, Maghrib atau  Isya sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan shalat berjamaah. Puji-pujian tersebut ada yang menggunakan bahasa Arab maupun bahasa daerah. Mungkin  berkat  susunannya  yang ritmis, puji-pujian ini mudah dihafal dan menyebar dari satu musala atau masjid ke musala lainnya.

Puji-pujian yang didendangkan para jemaah ini biasanya selalu didahului dengan salawatan atau membaca shalawat Nabi dan puji-pujian pada Nabi SAW. Meskipun puji-pujian tersebut berbahasa Jawa, puji-pujian ini selalu didahului shalawat nabi yang memiliki berbagai keutamaan.

Dari Hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a ( dalam Assamarqandi, 1980: 619) Nabi SAW bersabda yang artinya: “Bacalah shalawat untukku, sebab bacaan shalawat itu membersihkan kekotoranmu (dosa-dosamu) dan mintalah kepada Allah untukku wasilah. Apakah wasilah itu ya Rasulullah? Jawabnya: Satu derajat yang tertinggi dalam sorga yang tidak akan dicapai kecuali oleh seorang, dan saya  berharap semoga sayalah orangnya”.

Orang mengenal pujian disebarkan oleh kalangan pesantren dan ada yang mengatakan puji-pujian ini diperkenalkan oleh para walisongo, yakni penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Seperti yang masyarakat kenal lewat sejarah bahwa pendekatan yang digunakan para Walisongo dalam menyebarkan agama Islan adalah  pendekatan persuasif yang bersifat kemasyarakatan sesuai dengan adat dan budaya masyarakat waktu itu.

Salah satu contohnya adalah Sunan Giri yang menciptakan Asmaradana dan Pucung. Sunan Giri jugalah yang menciptakan tembang-tembang dolanan anak-anak yang di dalamnya diberi unsur keislaman, misalnya Jamuran, Cublak-cublak Suweng, Jithungan dan Delikan (Rahimsyah, tanpa tahun: 54).

Selain Sunan Giri, ada lagi Sunan Bonang yang menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Suluk berasal dari bahasa Arab ”Salakattariiqa” , artinya menempuh jalan (tasawuf) atau tarikat.
Ilmu Suluk ini ajarannya biasanya disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid. Salah satu Suluk Wragul dari Sunan Bonang yang terkenal adalah Dhandanggula. Sebagian masyarakat (yang mengenal tarikat) mengatakan bahwa teks puji-pujian diciptakan oleh para pemimpin tarikat dan Syekh Abdul Qadir Jailani.

Puji-pujian yang diperdengarkan di musala berisi shalawatan, do’a-doa mustajabah, dan petuah-petuah hidup. Puji-pujian yang diperdengarkan di musala-musala atau masjid-masjid kental dengan ajaran Tasawuf.

Obat Hati Lima Perkara
Pedoman hidup muslim adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an diturunkan Allah melalui utusan-Nya , yakni Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya Al-Qur’an dan Al-Hadits ini menjadi jelaslah jalan lurus yang harus ditempuh manusia serta aliran yang benar yang harus diikuti untuk memahami pengertian-pengertian hukum yang tercantum di dalamnya. Hal ini pulalah yang merupakan pemisah antara yang halal dan haram. Fungsinya adalah sebagai cahaya yang cemerlang, dengan berpegang teguh itu akan selamatlah setiap manusia dari tipuan. Kandungannya penuh dengan penawar untuk menyembuhkan hati dan jiwa yang sakit.

Mengenai obat hati ini, dalam teks puji-pujian ditawarkan adanya lima hal yang mampu menjadi obat bagi hati manusia. Kelima hal tersebut adalah (1) membaca Alqur’an dengan mengendapkan maknanya, (2) memperbanyak melakukan shalat malam, (3) berkumpul dengan orang Shaleh atau bergaul dan berguru pada orang Shaleh, (4) mampu menahan lapar atau perbanyak berpuasa, dan (5) perbanyak berdzikir di malam hari. Berikut kutipannya.
Tombo ati iku limo sak wernane
Kaping pisan maca Qur’an sak maknane
Kaping pindu shalat wengi lakonono
Kaping telu wong kang shaleh kumpulono
Kaping papat kudu weteng engkang luwe
Kaping limo dzikir wengi engkang sue  

Syair obat hati ini kemudian diakhiri:
Insya Allah Gusti Allah ngijabahi Insya Allah,
Allah mengabulkan

Mengingat Kematian Setiap yang hidup pasti akan mati, demikian halnya dengan manusia. Semua manusia di dunia ini akan mati. Untuk itu melalui salah satu puji-pujian manusia diingatkan akan datangnya kematian. Adapun teksnya adalah sebagai berikut.

Ilingono para timbalan
(Ingatlah jika sudah waktunya dipanggil)
Timbalane ora keno wakilan’
(Panggilannya tak bisa diwakilkan)
Timbalane kang maha mulya
(Panggilan dari Yang Maha Kuasa)
Gelem ora bakal lunga
(Mau-tak mau harus pergi)

Panggilan yang dimaksudkan adalah panggilan Yang Maha Kuasa.Tak ada satupun yang kuasa menghalanginya. Harta, tahta, ataupun kerabat dan keluarga takkan bisa menghentikannya.  Panggilan untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia. Hendaknya selama masih hidup selalu ingat dan takut hanya pada Allah karena dengan rasa takut itu menjadikannya berhati-hati dan berusaha selalu di jalan yang benar.

Gambaran orang yang sudah mati dalam teks puji-pujian adalah sebagai berikut.
Klambine diganti putih
(Bajunya diganti putih)
Nek budal ora bisa mole
(Jika berangkat tak bisa kembali)
Tumpak ane kereto jowo
(Kendaraannya kereta Jawa)
Roda papat rupa menongsa
(Beroda empat berupa manusia)
Oma e rupa goa
(Rumahnya serupa Go’a)
Ora bantal ora keloso
(Tak ada bantal ataupun tikar)
Omah e gak nok lawange
(Rumahnya tidak ada pintunya)
Turu ijen gak nok rewange
(Tidur sendirian tak ada yang menemani)

Perintah untuk memperbanyak mengingat kematian dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Tirmidzi (dalam Addimasyqy, 1983: 1048) menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ” Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan (kematian)”. Selain itu, mengingat kematian dapat melebur dosa dan berzuhud. Dengan mengingat kematian maka kematian itu sendiri sebagai pengingat pada diri sendiri dan orang yang tercerdik adalah orang yang terbanyak mengingat kepada kematian sebagaimana makna hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Abiddunnya berikut.

”Secerdik-cerdik manusia ialah  yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-banr cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan akhirat” (dalam Addimasyqy, 1983: 1049).

 Ajaran Tasawuf yang salah satunya adalah ajakan untuk melakukan zuhud merupakan salah satu jalan untuk takut dan berusaha mendekatkan diri pada Allah.
Menurut Imam Ahmad bin Hambal (dalam Dahlan, dkk, 1988: 324), seorang ahli fiqih, membagi zuhud menjadi tiga, yakni
(1) meninggalkan yang haram (zuhud orang awam);
(2) meninggalkan yang tak berguna dari yang halal (zuhud orang khawash, para aulia’); dan
(3) meninggalkan sesuatu yang dapat memalingkan diri dari Allah SWT (zuhud orang Arifin, orang yang sangat dekat dan kenal benar pada Allah.

Faiqotur Rosidah
Pengajar di P.P Darul ‘Ulum Peterongan Jombang, sedang menyelesaikan S-2 di Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA)


Senin, 20 Januari 2020

Biografi Imam Ahmad Bin Hanbal


Judul: Biografi Imam Ahmad Bin Hanbal
Penulis: Wildan Jauhari, Lc
Terbit: Sun, 16 December 2018
Halaman: 26 hlm.
Harga: Rp. 0,- (Free)
Kategori: Sirah & Biografi

Daftar Isi    
A. Nasab    
B. Pendidikan    
C. Guru    
    1. Adab Terhadap Guru    
    2. Guru Hadis    
    3. Guru Fikih    
D. Murid    
E. Masa Fitnah    
F. Pujian Untuk Sang Imam    
G. Karya    
H. Wafat    
Daftar Pustaka    
Profil Penulis


Biografi Imam Abu Hanifah


Judul: Biografi Imam Abu Hanifah
Penulis: Wildan Jauhari, Lc
Terbit: Wed, 17 October 2018
Halaman: 26 hlm.
Harga: Rp. 0,- (Free)
Kategori: Sirah & Biografi
Daftar Isi    
A. Lahir    
B. Saudagar Yang Dermawan    
C. Ujian Hidup    
    1. Pertama    
    2. Kedua    
D. Menuntut Ilmu    
    1. Berguru ke Kufah    
    2. Berguru ke Basrah    
    3. Berguru ke Mekkah    
E. Murid    
    1. Abu Yusuf    
    2. Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani    
    3. Zufar    
    4. Al-Hasan bin Ziyad al-Lu’lui    
F. Akidah    
G. Karya    
    1. Karya Sang Imam    
    2. Karya Madzhab Hanafi    
H. Abu Hanifah dan Ilmu Fiqih    
I. Abu Hanifah dan Ilmu Hadits    
J. Wafat    
Daftar Pustaka    
Profil Penulis    


Biografi Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii


Judul: Biografi Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii
Penulis: Wildan Jauhari, Lc
Terbit: Mon, 26 November 2018
Halaman: 40 hlm.
Harga: Rp. 0,- (Free)
Kategori: Sirah & Biografi
Daftar Isi    
A. Nasab    
B. Perjalanan Hidup    
    1. Mekkah    
    2. Yaman    
    3. Baghdad    
    4.  Kembali Ke Mekkah    
    5. Kembali Ke Baghdad    
    6. Mesir    
C.  Guru    
    1. Hijaz    
        a. Sufyan bin Uyainah    
        b. Muslim bin Kholid az-Zanji    
        c Imam Malik bin Anas    
    2. Irak    
        a. Muhammad bin al-Hasan Asy-Syaibani    
        b. Waki’ bin Al-Jarrah    
        c. Abdul Wahab bin Abdul Majid ats-Tsaqofi    
        d Ismail bin Ibrahim Al-Bashri    
D. Murid    
    1. Irak    
        a. Abu Tsaur Al-Kalbi    
        b. Abu Ali Al-Karabisi    
        c. Al-Hasan Az-Za’farani    
        d. Ahmad bin Hanbal    
    2. Mesir    
        a. Al-Buwaithi    
        b. Al-Muzani    
        c. Ar-Rabi’ Al-Muradiy    
E. Karya    
    1. Al-Hujjah    
    2. Ar-Risalah    
    3. Al-Umm    
    4. Musnad Imam Asy-Syafi’i    
F. Pujian Para Ulama    
G. Wafat    
Daftar Pustaka    
Profil Penulis    


Bersalaman Setelah Shalat


Judul: Bersalaman Setelah Shalat
Penulis: M. Aqil Haidar, Lc
Terbit: Thu, 21 February 2019
Halaman: 25 hlm.
Harga: Rp. 0,- (Free)
Kategori: Salafi
Daftar Isi    
Muqaddimah    
Bab 1 : Bersalaman Dalam Islam    
A. Keutamaan    
B. Hukum Asal    
Bab 2 : Bersalaan Setelah Shalat    
A. Tidak Boleh   

    1. Para Pendukung 
        a. Ibnu Taimiyah 
        b. Syeikh Bin Bazz 
    2. Dalil Yang Digunakan 
        a. Tidak Ada Contoh & Perintah dari Nabi SAW 
        b. Saddu Adz-Dzari'ah    
B. Boleh 
    1. Boleh Dengan Syarat 
    2. Boleh Mutlak 
        a. Al ‘Izz Ibnu Abdissalam 
        b. Imam An-Nawawi 
        c. Al-Imam Ibnu Hajar Al Haitami 
        d. Al-Imam Ar-Ramli 
        e. Syaikh ‘Athiyah Shaqr 
    3. Sunnah 
    4. Dalil Yang Digunakan    
Kesimpulan    


Ragam Bacaan Shalat


Judul: Ragam Bacaan Shalat
Penulis: M. Aqil Haidar, Lc
Terbit: Sat, 12 January 2019
Halaman: 35 hlm.
Harga: Rp. 0,- (Free)
Kategori: Shalat
Daftar Isi    
A. Takbir    
    1. Pertama    
    2. Kedua    
    3. Ketiga    
B. Iftitah    
    1. Pertama    
    2. Kedua    
    3. Ketiga    
    4. Keempat    
    5. Kelima    
    6. Keenam    
    7. Ketujuh    
    8. Kedelapan    
    9. Kesembilan    
C. Ruku’    
    1. Pertama    
    2. kedua    
    3. Ketiga    
    4. Keempat    
    5. Kelima    
    6. Keenam    
D. I’tidal    
    1. Pertama    
    2. Kedua    
    3. Ketiga    
    4. Keempat    
E. Sujud    
    1. Pertama    
    2.kedua    
    3. Ketiga    
    4. Keempat    
    5. Kelima    
    6. Keenam    
F. Duduk Di Antara Sujud    
    1. Pertama    
    2. Kedua    
G. Tasyahhud   
    1. Pertama    
    2. Kedua    
H. Sholawat    
    1. Pertama    
    2. Kedua    


NIKAH SIRI


Judul: Nikah Siri
Penulis: Vivi Kurniawati, Lc
Terbit: Wed, 6 February 2019
Halaman: 37 hlm.
Harga: Rp. 0,- (Free)
Kategori: Pernikahan
Daftar Isi    
Kata Pengantar    
Mukadimah    
Pembahasan    
A. Definisi Nikah Siri    
    1. Nikah Tanpa Wali    
    2. Nikah Sah Secara Agama dan Adat Istiadat Tapi Tidak Tercatat di KUA    
    3. Nikah Rahasia Karena Berbagai Pertimbangan    
B. Perbedaan Antara Pernikahan Siri Dengan Pernikahan Pada Umumnya    
    1. Pernikahan Siri Tidak Tercatat Dalam Buku Administratif Kantor Urusan Agama    
    2. Tidak Adanya Walimah Dalam Pernikahan Siri    
C. Nikah Siri dalam Perspektif Hukum Islam    
    1. Pernikahan Tanpa Wali Atau Saksi    
    2. Nikah Sah Secara Aspek Syar’i tapi Tidak Sah Secara Aspek Legalitas    
    3. Pernikahan Tidak Sah Secara Aspek Syar’i Tapi Sah Secara Aspek Legalitas    
D. Nikah Siri Menurut Hukum Negara    
    1. Undang-Undang (UU RI) Tentang Perkawinan No. 1 Tahun 1974    
    2. Pasal 2 UU Perkawinan    
    3. Bab II Pasal 2 PP No. 9 tahun 1975 tentang pencatatan perkawinan    
E. Pendapat Para Ulama Terkait Nikah Siri    
    1. Madzhab Malikiyah    
    2. Madzhab Hanafiyah    
    3. Madzhab Asy-Syafi’iyah    
    4. Madzhab Hanabilah    
F. Haruskah Mengumumkan Pernikahan    
    1. Jumhur Ulama: Mustahab    
    2. Imam Az-Zuhri: Harus Fasakh    
G. Dampak Negatif Pernikahan Siri   
    1. Perkawinan Dianggap Tidak Sah    
    2. Anak Hanya Mempunyai Hubungan Perdata Dengan Ibu Dan Keluarga Ibu    
    3. Istri Dan Anak Tidak Berhak Menuntut Nafkah Atau Warisan    
Kesimpulan    
Penutup    
Profil Penulis    



Senin, 13 Januari 2020

ANTARA ADAB DAN ILMU




Ilmu memang memilki derajat yang tinggi di hadapan Allah, namun adab adalah buah nyata dari ilmu itu. Sikap kritis terhadap pendapat manusia adalah kewajiban setiap orang yang tidak ingin disebut muqollid (taqlid). Namun adab terhadap ilmu dan ahlul ilmi melebihi tingginya kewajiban untuk bersikap kritis tersebut.

Para salafus shalih mengajarkan kepada kita betapa adab adalah tanda dalamnya ilmu dan tingginya wara’ seseorang dan tawadhu’ terhadap ilmu dan adab walaupun itu dimiliki olah orang yang usianya jauh lebih muda darinya.


عَنْ غُضَيْفِ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّهُ مَرَّ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ نِعْمَ الْفَتَى غُضَيْفٌ. فَلَقِيَهُ أَبُو ذَرٍّ فَقَالَ أَىْ أُخَىَّ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ أَنْتَ صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنْتَ أَحَقُّ أَنْ تَسْتَغْفِرَ لِى. فَقَالَ إِنِّى سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ نِعْمَ الْفَتَى غُضَيْفٌ. وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ضَرَبَ بِالْحَقِّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ ». قَالَ عَفَّانُ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ يَقُولُ بِهِ



Dari Ghudhoif bin Al Harits Radhiyallohu ‘Anhu ia bercerita bahwa suatu hari ia lewat di depan Umar Bin Khattab Radhiyallohu ‘Anhu, lalu Umar berkata: “Sebaik-baik anak muda adalah Ghudhoif”. Ghudhoif melanjutkan ceritanya: “Setelah peristiwa itu aku berjumpa dengan Abu Dzar, beliau berkata kepadaku : “Wahai saudaraku mintakan ampun kepada Allah untukku”.


Ghudhoif menjawab : “Engkau shahabat Rasul yang terpandang, engkau lah yang lebih pantas berdo’a dan memintakan ampun kpd Allah buatku”.


Abu Dzar menjawab : “Sungguh aku mendengar Umar berkata : “Sebaik-baik anak muda adalah Ghudhoif”, sedangkan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi Wasallam : “Sesungguhnya Allah meletakkan kebenaran pada lisan dan hati Umar” (HR. Ahmad dan Imam Hakim dalam Al Mustadrak dan beliau menyatakan hadits ini shahih atas persyaratan Bukhari dan Muslim, Muhtashor Tarikh Dimasyq juz 6 hal 247)


Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
إنما بعثت لأتمم مكارم لأخلاق

“Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”


Oleh karena itulah para Ulama Salaf lebih mendahulukan adab dibanding ilmu dan mereka amat sangat menjaga adab Islami dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan mereka. Berikut beberapa nasehat mereka.


Imam Ibnul Mubarak berkata:
تعلمت الأدب ثلاثين سنة، وتعلمت العلم عشرين سنة

“Aku belajar adab selama tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu selama dua puluh tahun.”


Seorang ulama Salaf menasehati anaknya :


يا بنى لأن تتعلم بابا من الأدب أحب إلى من أن تتعلم سبعين بابا من أبواب العلم
“Wahai anakku, aku lebih suka melihatmu mempelajari satu bab tentang adab dibanding mempelajari tujuh puluh bab tentang ilmu.”

Al Mikhlad bin Husain berkata kepada Imam Ibnul Mubarak:

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من الحديث

“Kita jauh lebih membutuhkan banyaknya adab dibanding banyaknya hadits.”

Imam Syafi’i pernah ditanya seseorang tentang bagaimana besarnya keinginan dan kesungguhan beliau untuk belajar dan memahami adab. Beliau menjawab:

أسمع بالحرف منه مما لم أسمعه فتود أعضائى أن لها أسماعا فتنعم به

“Ketika aku mendengarkan satu huruf saja tentang adab yang belum pernah aku dengar sebelumnya, maka aku rasakan seluruh anggota tubuhku menginginkan untuk mempunyai pendengaran sehingga mereka mendengarnya dan mendapatkan nikmatnya adab.”

Lalu orang itu bertanya lagi: “Lalu bagaimana keinginanmu mempelajari adab itu?”

Beliau –rahimahullah- menjawab:

طلب المرأة المضلة ولدها وليس لها غيره

“Seperti seorang ibu yang sedang mencari anak satu-satunya yang hilang.” Lalu beliau berkata:

ليس العلم بما حفظ العلم ما نفع

“Ilmu bukanlah diukur dengan apa yang telah dihafal oleh seseorang, tetpi diukur dengan apa yang bermanfaat bagi dirinya.”


Diriwayatkan dari Musa bin Nushair, beliau berkata: “Aku mendengar Isa bin Hammad menasehati para pelajar ilmu hadits:


تعلموا الحلم قبل العلم
“Pelajarilah kelembutan hati dan kerandahan jiwa sebelum kalian belajar ilmu.”

Imam Ibnu Wahab berkata:
ما تعلمت من أدب مالك أفضل من علمه

“Aku lebih mengutamakan belajar adab kepada Imam Malik dibanding belajar ilmu darinya.”


Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) berkata:
الحكايات عن العلماء ومجالستهم أحب إلى من كثير من الفقه لأنها آداب القوم وأخلاقهم

“Kisah-kisah tentang kehidupan para ulama dan duduk dalm majlis mereka lebih aku sukai dari mempelajari banyak ilmu, karena kisah-kisah itu penuh dengan ketinggian adab dan akhlak mereka.”


Imam Ibnul Mubarak menyusun sebuah syair:


أيها الطالب علما ائت حماد بن زيد
فاقتبس علما وحلما ثم قيده بقيد

Wahai para penuntut ilmu, datanglah kepada Imam Hammad bin Zaid

Dan belajarlah ilmu dan kelembutan hati lalu ikatlah dengan pengikat yang kuat.





PUSTAKA UNGGULAN

20 Manfaat Daun Kelor bagi Kesehatan, Bisa Bangkitkan Libido!

Tanaman kelor biasanya digunakan untuk mengusir makhluk tak kasat mata, namun ternyata ada banyak manfaat daun kelor bagi kesehatan.  Hal i...

PUSTAKA POPULER